3 Bahaya Difteri Yang Dapat Sebabkan Kematian

Bahaya difteri tidak hanya mengancam keselamatan bayi dan anak-anak saja, namun orang dewasa juga tetap berisiko terkena.

Karena itulah para penderita difteri harus mendapatkan penangangan dan pengobatan sesegera mungkin.

Berikut ini adalah 3 bahaya penyakit difteri yang dapat berujung pada kematian jika tidak segera diobati:

1. Menyebabkan Gagal Nafas

Bahaya penyakit difteri yang pertama adalah dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan.

Bakteri difteri yang bernama Corynebacterium diphtheriae memiliki kemampuan untuk memproduksi exotoxin, senyawa racun yang sangat berbahaya.

bahaya bakteri corynebacterium diphtheriae penyebab penyakit difteri yang mewabah

Exotoxin ini memiliki kemampuan untuk merusak dan mematikan sel-sel sehat.

Awalnya exotoxin akan merusak sel-sel selaput mukosa pada sistem pernapasan bagian atas, yakni sekitar rongga mulut, tenggorokan, atau rongga hidung.

Hal ini ditandai dengan munculnya selaput tebal berwarna putih abu-abu pada pada tenggorokan penderita.

Selaput putih tersebut merupakan sel-sel mati yang menumpuk, disebut juga dengan selaput pseudomembran.

Selanjutnya racun exotoxin juga akan menyebabkan kerusakan sel-sel saraf yang mengontrol kerja otot pada sistem pernapasan.

Pada tahap ini penderita difteri akan kehilangan kemampuan untuk bernapas (gagal napas) yang berujung pada kematian.

2. Menyebabkan Gagal Jantung

gagal jantung akibat difteri

Bahaya penyakit difteri yang kedua adalah menyebabkan gagal jantung yang juga dapat berujung pada kematian.

Racun exotoxin yang dihasilkan oleh bakteri difteri tidak hanya menyerang sistem pernapasan bagian atas saja, ia juga bisa masuk ke aliran darah dan terbawa ke organ-organ vital yang lain.

Salah satu yang paling berbahaya adalah jika racun sampai masuk ke jantung.

Racun exotoxin yang masuk ke jantung akan merusak sel-sel otot jantung, menyebabkan terjadinya miokarditis.

Awalnya penderita akan merasakan gejala jantung berdebar, bila semakin parah maka akan terjadi kelumpuhan otot jantung sehingga jantung tidak lagi mampu memompa darah.

Keadaan ini akan berujung pada gagal jantung dan kematian.

3. Merusak Saraf

kerusakan saraf akibat bahaya difteri

Bahaya difteri yang ketiga adalah menyebabkan kerusakan saraf (polyneuropathy).

Saraf yang paling sering diserang adalah saraf pada sistem pernapasan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya hal ini akan menyebabkan kelumpuhan otot pada sistem pernapasan yang berujung pada gagal napas.

Pada sebagian kasus, exotoxin yang dikeluarkan oleh Corynebacterium diphtheriae juga bisa menyebabkan gangguan pada saraf mata, menyebabkan penderitanya mengalami gangguan pengelihatan.

Kerusakan saraf juga bisa terjadi pada urat saraf yang mengatur kerja kandung kemih, menyebabkan beberapa gangguan seperti sering buang air kecil, air seni yang keluar jumlahnya sedikit, dan kehilangan kontrol atas kandung kemih.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari bahaya difteri?

Imunisasi difteri adalah cara paling efektif agar terhindar dari bahaya difteri. Orang yang status imunisasinya lengkap dan update akan kebal terhadap wabah difteri.

Imunisasi difteri tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak, namun orang dewasa juga perlu mendapatkan vaksin penguat setiap 10 tahun.

Di Indonesia vaksin penguat (booster) ini masih belum banyak diketahui oleh orang awam.

Kebanyakan masyarakat hanya mendapat imunisasi difteri sewaktu masih bayi hingga sekolah dasar, padahal imunisasi difteri hanya memberikan perlindungan optimal selama 10 tahun. Setelah itu kekebalan akan menurun seiring berjalannya waktu.

Bagi Anda orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi difteri dengan vaksin booster dan ingin mengetahui aturannya serta siapa saja yang membutuhkannya, artikel ini akan membantu Anda:

Imunisasi Difteri Untuk Dewasa: Aturan, Dosis, Harga, & Efek Sampingnya

Bahaya difteri bagi ibu hamil & bayinya

Difteri juga bisa menyebabkan dampak yang sangat buruk pada ibu hamil, yang dapat mengancam keselamatan baik ibu maupun bayi dalam kandungannya.

Karena itu untuk mencegah difteri pada ibu hamil, Anda tetap bisa melakukan imunisasi.

Memang di luar sana masih banyak ibu hamil yang ragu akan keamanan melakukan vaksinasi difteri selama kehamilan, tapi hal ini sudah pernah kami kupas tuntas sebelumnya. Anda bisa membacanya di artikel ini:

Vaksin Difteri Untuk Ibu Hamil & Menyusui, Amankah?

Kenali gejala difteri sedini mungkin

Untuk menghindari bahaya wabah difteri, Anda juga harus bisa mengenali ciri-ciri dan gejala awal difteri sedini mungkin.

Dengan begitu penanganan secara cepat dan tepat bisa dilakukan untuk mencegah dampak penyakit yang parah. Pemberian serum anti difteri sesegera mungkin sangat diperlukan dalam hal ini.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana cara kita mengenali difteri karena awalnya penyakit ini memang terlihat seperti sakit tenggorokan biasa.

Tapi Anda tidak perlu cemas, sakit tenggorokan karena difteri ini gejalanya cukup khas dan biasanya bisa dikenali secara kasat mata baik pada anak-anak maupun orang dewasa.

Untuk bisa membedakan antara sakit tenggorokan karena difteri dengan sakit tenggorokan biasa, artikel berikut ini akan membantu Anda:

Cara Membedakan Difteri, Sakit Tenggorokan Biasa, dan Amandel

Yang terakhir, sangat disarankan Anda segera mengunjungi unit pelayanan kesehatan terdekat apabila menemui tanda-tanda difteri pada anggota keluarga Anda.

Meskipun Anda belum sepenuhnya yakin jika itu adalah gejala difteri, namun tidak ada ruginya jika Anda waspada.

Karena bahaya difteri lebih mudah dihindari daripada mengobatinya.

***

Bagikan artikel ini kepada orang-orang terdekat Anda. Sharing is caring!