Mengenal Corynebacterium diphtheriae: Bakteri Penyebab Wabah Difteri

Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit difteri. Bakteri ini sifatnya sangat mudah tersebar, ia dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya melalui kontak langsung.

Umumnya bakteri Corynebacterium diphtheriae ditularkan pada saat penderita difteri batuk atau bersin sehingga cairan seperti ludah atau ingus bertebaran di udara dan terhirup oleh orang lain.

Jika hal ini terjadi pada orang yang tidak memiliki kekebalan/ imun terhadap penyakit difteri maka kemungkinan besar ia dapat tertular.

Darimana bakteri difteri berasal?

Bakteri Corynebacterium sp. berasal dari tanah, air, tumbuhan, dan makanan yang tidak higienis. Ini adalah habitat kelompok bakteri ini di alam. Beberapa spesies Corynebacterium non-difteri juga dapat hidup di selaput mukosa dan kulit pada hewan dan manusia.

Untuk jenis Corynebacterium diphtheriae umumnya akan ditemukan pada saluran pernapasan, luka atau lecet, serta pada kulit orang yang terinfeksi.

Bakteri Corynebacterium diphtheriae bisa juga ditemukan pada orang normal yang tidak terkena difteri. Mereka ini adalah pembawa bakteri yang sering disebut dengan carrier difteri.

Bakteri difteri pertama kali ditemukan oleh oleh 2 orang bakteriolog Jerman yaitu Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich Löffler (1852-1915) pada tahun 1884. Itulah alasan mengapa nama bakteri difteri juga sering disebut dengan Klebs-Löffler bacillus, yang diambil dari nama para penemunya.

Penyebaran bakteri Corynebacterium diphtheriae

Meskipun bakteri ini dapat ditemukan di hampir seluruh dunia, namun utamanya ia endemik di negara-negara beriklim tropis dan subtropis pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Apa saja bahaya yang bisa ditimbulkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae?

Bahaya yang ditimbulkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae termasuk dalam kategori infeksi fatal yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian.

Ketika menginfeksi manusia, ia akan membentuk strain penghasil racun/ toksin yang dapat membunuh sel-sel hidup. Sel-sel yang mati akibat serangan racun ini kemudian akan membentuk lapisan tebal berwarna abu-abu pada tenggorokan dan hidung yang disebut dengan pseudomembran.

Berikut ini beberapa gambar pseudomembran pada tenggorokan penderita difteri:

gambar penyakit difteri pada anak tenggorokan orang yang terkena penyakit difteri

Umumnya bakteri difteri akan menyerang saluran pernapasan bagian atas yaitu hidung dan tenggorokan.

Namun jika infeksi berlanjut dan tidak segera mendapat penanganan, maka toksin akan menyebar ke organ-organ lainnya melalui aliran darah.

Jika sudah masuk ke tahap ini maka akan terjadi komplikasi berbahaya yang dapat menyebabkan kematian.

Komplikasi berbahaya yang sering terjadi pada penyakit difteri adalah:

1. Miokarditis (kerusakan otot jantung)

Miokarditis adalah gangguan pada otot jantung yang ditandai dengan irama jantung yang tidak normal, terjadi inflamasi dan pembengkakan otot jantung, dan dapat berujung pada gagal jantung (kematian).

2. Neuritis (kerusakan saraf)

Neuritis difteri umumnya akan mempengaruhi saraf motorik yang menyebabkan kelumpuhan jaringan lunak, otot mata, diafragma, dan kelumpuhan tungkai. Kerusakan saraf ini juga dapat menyebabkan gagal napas yang berujung pada kematian.

Uniknya, Corynebacterium diphtheriae sendiri tidak berbahaya hingga ia terinfeksi oleh virus

Difteri tidak disebabkan oleh virus, tidak secara langsung. Hal ini perlu dijelaskan karena masih banyak yang menyebut virus difteri. Bahkan ada yang sampai bertanya bagaimana ciri-ciri virus difteri, tentu saja hal ini sulit dijawab.

Virus difteri yang dimaksud adalah virus yang menginfeksi bakteri Corynebacterium diphtehriae.

Ini adalah fakta ilmiah menarik untuk Anda ketahui. Bakteri difteri sejatinya tidak memiliki kemampuan untuk memproduksi toksin.

Racun yang disebut dengan exotoxin tersebut dihasilkan oleh bakteri difteri yang sudah terinfeksi oleh virus bernama Lysogenic bacteriophages.

Jadi bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyebabkan difteri itu sebenarnya juga mengalami infeksi.

Sedangkan bakteri yang tidak terinfeksi oleh bacteriophages tidak akan mampu memproduksi exotoxin sehingga ia belum berbahaya bagi manusia, bakteri ini disebut dengan Nontoxigenic C. diphtheriae.

Bakteri Corynebacterium diphtheriae yang sudah mengalami infeksi kemudian akan mengalami mutasi genetik melalui penyisipan(insersi) gen toksin virus ke dalam salinan genomnya.

Sederhananya, sifat atau kemampuan bakteri difteri dalam menghasilkan racun mematikan ini di peroleh dari gen virus.

Exotoxin adalah racun yang sangat mematikan!

bahaya bakteri corynebacterium diphtheriae penyebab penyakit difteri yang mewabah

Racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri ini sangatlah mematikan. 1 molekul racun exotoxin mampu membunuh 1 sel sehat termasuk pada jantung dan saraf.

Tiap-tiap 1 bakteri difteri mampu menghasilkan 5.000 molekul racun setiap jam.

Apabila strain bakteri difteri penghasil toksin sudah sangat besar jumlahnya maka akan menyebabkan kematian sel yang sangat masif, merusak jantung, merusak sistem saraf, dan pada akhirnya berujung pada kematian.

Morfologi dan Klasifikasi Corynebacterium diphtheriae

Corynebacterium diphtheriae termasuk dalam golongan bakteri gram positif.

Secara morfologinya bakteri ini berbentuk batang dengan panjang antara 1 – 8 μm dan diameter 0,5 – 1 μm, tidak memiliki kapsul, tidak memiliki spora, dan tidak dapat bergerak (nonmotil).

Koloni bakteri Corynebacterium diphtheriae saling menyambung satu dengan yang lainnya, jika dilihat di bawah mikroskop maka bentuknya mirip seperti han zi (aksara Cina).

Lihat gambar bakteri difteri dari mikroskop berikut ini:

gambar bakteri difteri di bawah mikroskop

Klasifikasi ilmiah Corynebacterium diphtheriae

  • Kingdom : Bacteria
  • Filum : Actinobacteria
  • Ordo : Actinomycetales
  • Familia : Corynebacteriaceae
  • Genus : Corynebacterium
  • Spesies: Corynebacteriumdiphtheriae

Epidemiologi Bakteri Corynebacterium diphtheriae

Bakteri Corynebacteriumdiphtheriae adalah penyebab penyakit difteri di berbagai belahan dunia. Seringkali penyakit ini menyerang dalam bentuk wabah.

Umumnya difteri akan menyerang anak-anak dalam rentang usia antara 1-9 tahun, namun ada juga kasus difteri yang terjadi pada remaja dan orang dewasa.

Bakteri difteri sangat mudah menular melalui droplet pernapasan seperti ingus dan ludah. Artinya cairan yang di keluarkan penderita pada saat bersin atau batuk adalah media utama penyebaran bakteri ini.

Difteri juga dapat ditularkan melalui sentuhan langsung pada luka yang terinfeksi bakteri difteri, atau pakaian yang tersentuh oleh luka tersebut, namun kasus ini adalah hal yang cukup langka.

Selain itu ada kemungkinan juga difteri dapat menular melalui barang-barang bekas pakai penderita difteri seperti mainan, handuk, saputangan dll.

Bagikan artikel ini kepada orang-orang terdekat Anda. Bantu kami untuk mengedukasi saudara-saudara kita betapa bahayanya penyakit difteri ini. Sharing is caring !

Referensi:

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK7971/
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Corynebacterium_diphtheriae
  • http://innvista.com/health/microbes/bacteria/corynebacterium-diphtheriae/