Vaksin Difteri Untuk Ibu Hamil & Menyusui, Amankah?

Sejak terjadinya KLB difteri di Indonesia beberapa waktu lalu, banyak masyarakat yang mulai sadar untuk memeriksa kembali status imunisasi difteri mereka. Tidak terkecuali para ibu hamil dan menyusui yang juga peduli akan hal ini.

Namun karena kondisi mereka yang sedang hamil atau menyusui membuat mereka lebih hati-hati bahkan khawatir dengan keamanan vaksin difteri tersebut.

Apakah benar ibu hamil dan menyusui aman jika diberikan vaksin difteri? Banyak yang bertanya seperti itu.

Karena itulah pada kesempatan kali ini kami akan coba memberikan penjelasan yang mungkin dapat menjawab pertanyaan tersebut.

vaksin imunisasi difteri untuk ibu hamil

Jenis vaksin difteri yang boleh diberikan untuk ibu hamil & menyusui.

Vaksin difteri terbagi atas dua jenis, yakni vaksin difteri untuk bayi dan anak-anak dibawah usia 7 tahun, dan vaksin untuk anak diatas 7 tahun dan dewasa.

Vaksin difteri untuk bayi dan anak dibawah usia 7 tahun adalah DPT (DTwP, DTaP) dan DT, sedangkan vaksin untuk anak diatas 7 tahun dan dewasa adalah vaksin Tdap dan Td.

Kedua kelompok vaksin ini sama-sama digunakan untuk membentuk kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus, namun berbeda dalam sifat dan jumlah antigennya.

Mengenai hal ini sudah pernah kami jelaskan sebelumnya, jika Anda ingin mengetahuinya lebih jauh mungkin artikel ini bisa membantu:

Mengenal Vaksin Difteri Untuk Dewasa

Untuk imunisasi difteri pada ibu hamil, vaksin difteri yang diberikan adalah vaksin Tdap atau Td.

Ibu hamil tidak boleh diberikan vaksin yang mengandung virus hidup, menurut para ahli hal ini dikhawatirkan dapat berdampak pada janin yang dikandung.

Namun vaksin Tdap tidaklah mengandung virus hidup, didalamnya terkandung toksoid (toksin nonaktif) dari tetanus dan difteri, serta antigen pertusis aselular.

Vaksin Tdap dan Td adalah jenis vaksin booster yang digunakan sebagai penguat, dosisnya lebih kecil sehingga efek samping yang ditimbulkan menjadi lebih minim.

Kapan ibu hamil boleh imunisasi difteri?

Wanita hamil baru boleh diberikan vaksin difteri dengan Tdap/Td pada trimester ke- 2 atau ke- 3. Usia kehamilan yang paling dianjurkan adalah antara 27-36 minggu.

Ibu hamil tidak boleh diberikan vaksin apapun pada saat usia kehamilan baru memasuki trimester ke -1.

Sebab pada masa ini keadaan janin masih sangat lemah dan rentan, sehingga dikhawatirkan akan terjadi dampak yang tidak baik pada pembentukan janin akibat pemberian vaksin tersebut.

Untuk menentukan apakah saat ini Anda boleh menerima vaksin difteri atau tidak Anda harus melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau petugas medis terkait.

Berapa dosis vaksin difteri yang diberikan kepada ibu hamil?

Dosis vaksin Tdap/ Td yang diberikan pada ibu hamil sama dengan dosis vaksin yang diberikan pada orang dewasa pada umumnya yakni 0,5 ml.

Manfaat imunisasi difteri pada ibu hamil

Manfaat imunisasi difteri yang paling utama adalah memberikan kekebalan terhadap penyakit difteri.

Antibodi akan terbentuk 2-3 minggu setelah vaksinasi, sehingga Anda akan menjadi kebal terhadap serangan difteri.

Untuk ibu hamil dan menyusui ada beberapa manfaat lain yang juga bisa diperoleh:

  1. Mencegah terserang penyakit berbahaya tetanus, difteri, dan pertusis selama kehamilan.
  2. Saat menyusui, antibodi yang ada dalam tubuh ibu akan berpindah kepada anak melalui asi. Hal ini akan memberikan kekebalan kepada anak terhadap penyakit-penyakit berbahaya tersebut menjelang ia mendapatkan imunisasinya sendiri.
  3. Membantu ibu tetap sehat dan terhindar dari penyakit menular sehingga bisa memberikan perawatan terbaik untuk buah hatinya.

Efek samping yang ditimbulkan setelah imunisasi difteri pada ibu hamil

Imunisasi difteri pada ibu hamil dengan menggunakan vaksin Tdap/Td biasanya hanya menimbulkan efek samping ringan seperti nyeri pada bagian bekas suntikan dan demam.

Efek samping seperti ini biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 hari. Apabila mengalami demam, Anda bisa meminta obat penurun panas dan memperbanyak konsumsi air dan buah.

Apakah vaksin difteri akan membahayakan kandungan dan janin?

Beberapa vaksin yang menggunakan virus hidup seperti vaksin Measles-mumps-rubella (MMR), Shingles (varicella-zoster), dan vaksin polio baik OPV maupun IPV tidak dianjurkan untuk diberikan kepada perempuan hamil.

Hal ini karena vaksin dengan virus hidup berisiko menyebabkan gangguan pada janin, keguguran, bahkan cacat.

Berbeda dengan vaksin difteri (Tdap/Td) yang tidak menggunakan virus hidup, sehingga imunisasi difteri untuk ibu hamil bisa dikatakan cukup aman.

Namun sekali lagi, Anda perlu melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter terkait hal ini.

Bagikan artikel ini kepada orang-orang terdekat Anda. Sharing is caring!

Referensi:

  • https://www.drugs.com/breastfeeding/diphtheria-tetanus-pertussis-vaccines.html
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/vaccines-during-pregnancy/faq-20057799
  • https://www.webmd.com/baby/pregnancy-is-it-safe-to-get-vaccinations#1