Stroke Non-Hemorragik: Jenis Stroke Yang Paling Umum

Stroke non hemoragik adalah jenis stroke yang terjadi karena penyumbatan pembuluh darah di otak. Stroke, juga dikenal sebagai stroke infark atau stroke iskemik, adalah jenis stroke yang paling umum. Diperkirakan lebih dari 80% kasus stroke di seluruh dunia disebabkan oleh stroke non hemoragik.

Ilustrasi Stroke. Pixabay./

Stroke dapat terjadi ketika aliran darah ke otak tersumbat atau sangat berkurang, menyebabkan sel-sel otak mati. Jenis stroke yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik. Kedua jenis stroke ini merupakan keadaan darurat yang harus segera ditangani.

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena stroke, antara lain:

  • Kegemukan (overweight) atau kegemukan
  • Jarang berolahraga atau berolahraga
  • Kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol
  • Penggunaan obat-obatan terlarang, seperti kokain dan metamfetamin
  • Penyakit tertentu, seperti aritmia, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi
  • Riwayat keluarga stroke

Penyebab dan Gejala Stroke Non-Hemorragik

Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah, menyebabkan pendarahan dan pembengkakan otak. Hal ini kemudian akan merusak sel dan jaringan otak.

Tidak seperti stroke hemoragik, stroke non-hemoragik atau iskemik memiliki dua kemungkinan penyebab. Penyebab pertama adalah gumpalan darah yang terbentuk di pembuluh darah otak sedangkan penyebab kedua adalah gumpalan darah yang terbentuk di bagian tubuh lain tetapi dibawa ke otak.

Gumpalan darah ini dapat menghentikan aliran darah ke bagian otak tertentu. Gejala stroke non-hemoragik tergantung pada bagian otak mana yang terpengaruh oleh aliran darah.

Secara umum, stroke non hemoragik dapat menimbulkan gejala sebagai berikut:

  • Tiba-tiba mati rasa atau kesulitan menggerakkan otot wajah, lengan, atau kaki di satu sisi tubuh atau bahkan seluruh tubuh
  • Kesulitan berbicara dan memahami ucapan orang lain
  • Sulit menelan
  • Pusing dan sakit kepala
  • Kehilangan keseimbangan dan kesulitan berjalan
  • Penglihatan kabur

Jika Anda atau anggota keluarga Anda mengalami gejala stroke non hemoragik di atas, sebaiknya segera periksakan ke dokter atau kunjungi rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Pengobatan Stroke Non-hemoragik

Pengobatan stroke tergantung pada beberapa hal, seperti jenis stroke dan berapa lama berlangsung. Semakin dini pengobatan stroke dilakukan, semakin cepat pemulihannya.

Berikut ini adalah beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter pada pasien stroke non hemoragik:

Pemberian Obat

Jika gejala stroke baru muncul dalam waktu 3-4,5 jam, dokter mungkin akan menginfuskan obat tissue plasminogen activator (TPA). Obat ini berfungsi untuk melarutkan atau menghancurkan sumbatan pada pembuluh darah otak yang menyebabkan stroke.

Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan TPA, karena berisiko menyebabkan pendarahan. Jika obat TPA tidak tersedia, dokter Anda mungkin akan meresepkan obat lain, seperti pengencer darah atau antikoagulan, untuk mencegah penyumbatan baru di pembuluh darah otak.

Pemasangan stenting pada pembuluh darah otak

Selain memberikan obat, dokter juga bisa memperbaiki aliran darah yang tersumbat di otak pasien stroke dengan prosedur stenting.

Penelitian menunjukkan bahwa pasien stroke non hemoragik yang menjalani prosedur pemasangan stent yang melibatkan pemberian obat TPA mengalami perbaikan kondisi yang signifikan. Namun, prosedur ini harus dilakukan atas kebijaksanaan ahli saraf.

Terapi oksigen

Pasien yang pernah mengalami stroke, baik stroke non hemoragik maupun stroke hemoragik, dapat mengalami gangguan kesadaran. Hal ini mengancam membuat mereka kesulitan bernapas. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pasien stroke, dokter dapat memberikan terapi oksigen.

Pada kasus stroke berat atau stroke yang membuat pasien koma, dokter dapat memberikan terapi oksigen melalui ventilator.

Operasi

Pada kasus tertentu, terutama pada kasus stroke non hemoragik yang baru muncul (kurang dari 6 jam), dokter dapat melakukan pembedahan. Operasi ini bertujuan untuk membersihkan penyumbatan pada pembuluh darah otak dan meningkatkan aliran darah ke otak.

Fisioterapi

Fisioterapi merupakan pengobatan lanjutan yang dilakukan setelah kondisi pasien stroke stabil dan membaik. Terapi fisik pada pasien stroke bertujuan untuk meningkatkan kekuatan anggota gerak, memperbaiki postur tubuh, dan menjaga keseimbangan tubuh saat bergerak.

 

Selain itu, pasien stroke yang mengalami kesulitan berbicara atau menelan juga akan disarankan untuk menjalani terapi wicara.

Stroke, apapun jenisnya, tidak bisa dianggap remeh. Cara terbaik untuk mencegah stroke, baik itu stroke hemoragik maupun stroke non-hemoragik, adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat, misalnya dengan makan makanan bergizi, berolahraga secara teratur, berhenti merokok dan membatasi minum alkohol.

Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala stroke, baik stroke non hemoragik maupun stroke hemoragik, segera dapatkan pertolongan medis di rumah sakit. Semakin cepat bantuan diberikan, semakin rendah risiko Anda atau keluarga Anda mengalami komplikasi stroke lebih lanjut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*